^00^markas_NURV3^00^

"Sebuah Kisah Perjalanan Hidupku"

Tuesday, June 28, 2005

Cinta, Bolehkah?

Sttt......
Ada teman yang nanya, "Cinta itu ada di mana?"
Sempat bingung juga jawabnya. Tapi, dengan sedikit keberanian saya jawab. "Cinta itu ada di hati."
Terlepas dari benar atu tidak, sempurna atau tidak jawaban yang saya berikan, tapi seperti itulah jawaban saya.
Cinta memang dari hati.
"Apakah dalam Islam itu gak boleh mencitai ?" tanyanya kemudian.
Siapa bilang, of course boleh.
"Boleh" jawabku.

Dia lalu menceritakan kisahnya kepada saya.
"Aku selalu bikin sebeeel yo."
"Yang seperti itu tidak usah diungkapkan." jawabku.
"Dia" has signed out

Entahlah, apakah ini suatu kewajaran atau bukan. Cerita-cerita yang sama, memang kadang membuat seseorang bosan mendengarnya.

Wednesday, June 15, 2005

Musim Ujian, Stop Ngeblog (Sementara)

"Konsentrasi HF nya kok ngga diketahui?"
"Iya, H3O+ nya juga ngga ada, mana bisa dikerjain?"
"Eh kalkulus dah keluar nilainya loh!"
"Eh, kamu punya Halliday ngga?"
"Eh SSA bahannya setelah MID kan?"
"Waduh, aku lupa ngga bawa kalkulator..."
"Eh itu ya yang keluar? Gimana ngerjainnya?"

***

Hm... musim ujian, berhenti ngeblog dulu, lain kali dilanjutin lagi... sambil nunggu warnet kampus buka... Buat yang mau minjemin KTM makasih ya... :)

Monday, May 23, 2005

Something Different

Banyak yang saya dapat setelah membaca bukunya Sean Covey, The 7 Habits of Highly Effective Teens. Beberapa diantaranya adalah dalam hal memahami orang lain. Sering kali saya banyak menuntut orang lain untuk mau melakukan apa yang saya kehendaki, padahal saya hampir-hampir tak pernah mau tahu perasaan mereka. atau lebih parahnya, saya hanya mau di-yo-i saja.

Sean bilang, coba dulu dengarkan apa mau mereka, baru kita utarakan kemauan kita. Lalu setelah itu, coba cari jalan tertinggi, yaitu jalan yang berakhir dengan menang/menang, artinya tidak ada pihak yang kalah, dan semua merasa diuntungkan.

Ada lagi selain itu. Yang paling keren adalah, tombol pause. Yap, sebuah tombol yang mesti kita tekan begitu emosi kita akan meledak. Sulit memang. Coba bayangkan saja satu kasus, ketika berada di perempatan jalan, ada sepeda onthel yang dikendarai oleh kakek-kakek yang mau belok ke kiri. Nah, di belakang kakek-kakek tersebut ada sebuah mobil sedan yang juga mau belok ke kiri. Pengemudinya tak henti-hentinya mengklakson. Padahal dia tahu, siapa yang berada di depannya. Nah, si pengemudi berarti ngga mau menekan tombol pausenya.

Oh ya, ada lagi yang menarik tentang perbedaan. Yang namanya manusia itu sudah diberi talenta semenjak lahir. Tinggal dia mau mengembangkannya atau tidak. Nah, talenta ini yang membuat dirinya berbeda dengan orang lain. Kalau dia mengeluh hanya karena tidak mampu berbuat seperti yang orang lain lakukan, sesungguhnya ia tak mengerti. Karena dia beda dengan orang lain. Dia bisa saja melakukan hal yang belum tentu bisa dilakukan orang lain itu. Hm... *kok endingnya kayak nggantung yak??*

Tukar Cincin

Beberapa waktu lalu dua anak tetangga saya tukar cincin. Mereka mengundang beberapa tetangga yang lain, termasuk bapak saya. Saya sendiri malah tidak tahu kalau mereka telah tukar cincin. Yang saya tahu, kedua orang itu, mbake dan mase memang sering terlihat bersama. Mungkin tukar cincin itu mengindikasikan bahwa keduanya sekarang telah terikat. Tetapi, apakah dengan tukar cincin menjadi halal hubungan keduanya? Ikatan apa yang muncul setelah peristiwa tukar cincin?

Saya terus terang tidak setuju dengan hubungan "aneh" macam itu. Kemana-kemana terlihat berdua, padahal mereka bukan mahram, dan yang jelas, keduanya belum terikat dalam suatu ikatan resmi, pernikahan.
"Kenopo ora nikah sisan?" tanya masku pada bapak. Aneh memang, dua orang saling mencinta, tapi keduanya menunda untuk membingkai ikatan cinta itu dalam hubungan yang halal. Bukankah dengan menikah segalanya jadi legal? Ibaratnya mau ngapain aja terserah, toh memang sudah halal. Lalu, kalau mbake dan mase itu tukar cincin, tujuan di baliknya apa ya? Apakah hanya sekedar memberitahukan kepada warga, bahwa ini tunangan saya, atau ini calon istri saya, ini calon suami saya. Ya kalau memang nantinya benar-benar jadi suami istri, kalau tidak?

Bagaimanapun juga, toh istri atau suami itu masih calon, dan keduanya tak bisa memastikan bahwa itulah istrinya atau suaminya kelak.

Thursday, May 19, 2005

Introvert Relatif

Kata orang, tertutup itu relatif. Kalau kita tak mau membicarakan hal-hal yang kita anggap pribadi, itu tidak lantas seseorang boleh mencap kita introvert alias terutup. Memang, kadang-kadang sesuatu hal yang pribadi itu untuk masing-masing orang juga punya batasan yang berbeda. Ada seseorang yang membicarakan kejelekan dirinya sendiri -yang mungkin bagi sebagian orang termasuk hal yang pribadi- namun baginya itu ngga' masalah, karena mungkin dengan berbicara demikian, ia sedang meminta pendengarnya untuk memberikan nasihat supaya bisa menjadi lebih baik. It's OK.

Seringkah kita merasa menyesal telah menceritakan sesuatu hal kepada teman atau saudara, tentang masalah kita, yang sebenarnya tidak perlu untuk diceritakan? Indikasi penyesalan tersebut bisa tampak dari kalimat yang lantas keluar beberapa waktu setelahnya. "Wah, harusnya saya ngga usah bilang begitu.."
Penyesalan itu mungkin karena beberapa hal; pertama, kita merasa dengan menceritakan masalah tersebut, tidak juga dapat mengurangi atau bahkan menyelesaikan masalah. Jadi kita lantas berfikir, sama saja antara kita cerita atau tidak cerita, hanya buang-buang waktu saja. Kedua, tidak ada respons yang berarti dari si pendengar. Puff... kecewa kan? Ketiga, mungkin ini buruk, bahwa dengan menceritakan masalah kita, justru membuat kita merasa menjadi kecil di hadapan si pendengar.

Kembali ke judul utama. Jadi, introvert dan ekstrovert itu batasan yang real seperti apa? Apakah dengan menceritakan semua masalah kepada orang-orang yang dianggap bisa dipercaya kita lantas bisa disebut ekstrovert? Atau ketika kita tak pernah mau cerita tentang diri kita kepada orang lain, menyebabkan kita dicap sebagai introvert?

Thursday, May 12, 2005

Seorang Gadis Datang Padaku

Seorang gadis datang padaku, menyuguhkan sebuah resah.
"Saya ingin teriak...!!"
Futur, mungkin. Tapi, apakah selalu demikian, ketika sebuah masalah datang kita lantas hanyut dalam sebuah kedaan, futur.

Seorang gadis datang padaku.
Rangkaian kata-kata yang dulu pernah saya ungkapkan, kini keluar dari mulutnya.
"Saya tidak tahan..." begitu rintihnya.

Seorang gadis datang padaku.
Aku tak mungkin menyalahkannya, sedang ia pun merengkuhku saat futur itu terjadi padaku.
Seorang muslim wajib menasihati, namun apakah aku mampu memberinya pelita, sedang aku sendiri sedang resah karena kehilangan secercah cahaya?

Seorang gadis datang padaku.
Aku bilang padanya, bahwa ia bisa melakukan yang terbaik untuknya. Ya, aku yakin itu.

Buat seorang gadis, yakinlah laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa.
Yup, semoga ini hanya emosi sesaat, seperti katamu beberapa waktu yang lalu.
Sist, aku rindu ceriamu. :)

Monday, April 25, 2005

Kala Kata Begitu Menggoda

Kata-kata itu bak peluru, yang bisa menembus sampai ke dasar hati. Ia bak pedang yang bisa melukai, meski si pengucap tak begitu merasakan dampak ucapannya kepada lawan bicaranya. Yang jelas, kata-kata seseorang bisa memberikan pengaruh yang super dahsyat bagi pendengarnya.

Seseorang bilang, kata-kata itu mencerminkan orangnya. Menurut saya belum tentu juga. Lidah itu tak bertulang. Bukan, saya tidak sedang membicarakan seorang yang mencla-mencle alias suka ingkar janji. Begini, kalau pendapat orang itu memang demikian, bukan berarti sepenuhnya salah, ya, paling sekitar 40% ada benarnya.

Saya juga sadar sepenuhnya bahwa dengan menulis, sebenarnya kita tengah menguji mental kita dengan kata-kata. Dengan menulis juga, sebenarnya kita sedang menantang bahaya kata-kata. Apa-apa yang kita tulis bisa menjadi sorotan, makian, bahkan hujatan dari berbagai pihak. Maka kemudian mereka menilai kita dari tulisan-tulisan kita, terlepas apakah tulisan tadi memang murni dari kita, atau sekedar jiplakan dari kata-kata orang, siapa yang tahu?

Berkaitan dengan kata-kata, saya mencoba memberikan contoh ketika sedang chatting misalnya. Saya paham betul, ketika chatting, sebenarnya kita berada pada kondisi yang sangat "pribadi" dengan lawan bicara. Mungkin ada beberapa orang yang kemudian memvonis bahwa chatting itu termasuk ikhtilat. Sadar atau tidak, (mungkin saya juga merasakan) ketika chatting kita "dipaksa" untuk mengungkapkan kebenaran tentang siapa kita, dari mana kita, itu kalau kitanya emang jujur. Tapi tidak menutup kemungkinan juga kita kemudian berbohong untuk menutupi identitas. Namanya juga dunia maya, apa sih yang ngga bisa?

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, sebenarnya, apakah lawan bicara kita itu juga selalu jujur ketika chatting? Jawabannya bisa ya, bisa tidak, karena kita tak bisa menyimpulkan kejujuran seseorang hanya dengan kata-kata yang diucapkan seseorang itu. Tingkat kejujuran seseorang itu, yang tahu hanyalah dirinya dan Robbnya. Maka, sulit ketika kemudian kita memaksa seseorang untuk jujur ketika chatting, benar kan?

Lantas, bagaimana ketika kita telah mengetahui lawan bicara kita? Ya, saya sering chatting dengan teman satu kampus, laki-laki atau perempuan, yang notabene telah saya tahu siapa orang itu. Anda tahu? Kadang paradigma seseorang dapat dengan cepat berubah ketika tahu bagaimana orang itu di atas "panggung" dan bagaimana ia setelah selesai "pentas". Kadang-kadang muncul kata-kata atau gumam "O.. ternyata..." atau "Wah, ternyata dia itu begini to..." Kadang itu muncul seiring dengan kata-kata yang mereka ketikkan selama chatting. Lumrah saja, karena di luar, saya tahu orang itu begini, ternyata ketika berada di dunia maya, ketahuan "aslinya". :-P (Btw, mereka merasakan hal yang sama ngga ya, waktu chatting dengan saya?)

Bukan, bukan begitu maksud saya, ini cuma sekedar contoh saja. Bagaimanapun juga, kita tak pernah bisa menilai seseorang hanya dari kata-katanya saja, jadi kiranya dihentikan saja tulisan ini, daripada nantinya timbul prasangka yang tidak-tidak. (lho?)

Saturday, April 16, 2005

Sekedar Cerita

Seringkali hal-hal yang menurut orang lain biasa-biasa saja, ternyata bagi saya punya kesan yang tidak biasa. Contohnya seperti sekarang ini.

Saya baru saja membuka situs Penulis Lepas. Kaget, ada inisial nama saya nangkring di salah satu essay/opini. Hehe, lumayan lah, artikel yang saya bikin beberapa jam plus menit plus detik beberapa waktu lalu ngga sia-sia.

Sebenarnya artikel itu saya bikin untuk rubrik prokon aktivis di Jawa Pos tapi ternyata mental, karena inbox di mail jawapos terbatas :(
Terang saja, saya ngirimnya Ahad pagi, waktu itu sekitar jam 7. Yah, ternyata dah kalah saingan ma yang lain. Mungkin juga kualitas tulisan saya juga belum layak muat di koran itu. Tapi ngga' papa, yang jelas saya senang untuk pertama kalinya tulisan saya dipublikasikan. Do'ain ya, semoga tulisan2 saya yang lain cepet nyusul...