Kata-kata itu bak peluru, yang bisa menembus sampai ke dasar hati. Ia bak pedang yang bisa melukai, meski si pengucap tak begitu merasakan dampak ucapannya kepada lawan bicaranya. Yang jelas, kata-kata seseorang bisa memberikan pengaruh yang super dahsyat bagi pendengarnya.
Seseorang bilang, kata-kata itu mencerminkan orangnya. Menurut saya belum tentu juga. Lidah itu tak bertulang. Bukan, saya tidak sedang membicarakan seorang yang
mencla-mencle alias suka ingkar janji. Begini, kalau pendapat orang itu memang demikian, bukan berarti sepenuhnya salah, ya, paling sekitar 40% ada benarnya.
Saya juga sadar sepenuhnya bahwa dengan menulis, sebenarnya kita tengah menguji mental kita dengan kata-kata. Dengan menulis juga, sebenarnya kita sedang menantang bahaya kata-kata. Apa-apa yang kita tulis bisa menjadi sorotan, makian, bahkan hujatan dari berbagai pihak. Maka kemudian mereka menilai kita dari tulisan-tulisan kita, terlepas apakah tulisan tadi memang murni dari kita, atau sekedar jiplakan dari kata-kata orang, siapa yang tahu?
Berkaitan dengan kata-kata, saya mencoba memberikan contoh ketika sedang
chatting misalnya. Saya paham betul, ketika
chatting, sebenarnya kita berada pada kondisi yang sangat "pribadi" dengan lawan bicara. Mungkin ada beberapa orang yang kemudian memvonis bahwa chatting itu termasuk
ikhtilat. Sadar atau tidak, (mungkin saya juga merasakan) ketika
chatting kita "dipaksa" untuk mengungkapkan kebenaran tentang siapa kita, dari mana kita, itu kalau kitanya emang jujur. Tapi tidak menutup kemungkinan juga kita kemudian berbohong untuk menutupi identitas. Namanya juga dunia maya, apa sih yang
ngga bisa?
Kemudian muncul sebuah pertanyaan, sebenarnya, apakah lawan bicara kita itu juga selalu jujur ketika
chatting? Jawabannya bisa ya, bisa tidak, karena kita tak bisa menyimpulkan kejujuran seseorang hanya dengan kata-kata yang diucapkan seseorang itu. Tingkat kejujuran seseorang itu, yang tahu hanyalah dirinya dan Robbnya. Maka, sulit ketika kemudian kita memaksa seseorang untuk jujur ketika
chatting, benar kan?
Lantas, bagaimana ketika kita telah mengetahui lawan bicara kita? Ya, saya sering
chatting dengan teman satu kampus, laki-laki atau perempuan, yang
notabene telah saya tahu siapa orang itu. Anda tahu? Kadang paradigma seseorang dapat dengan cepat berubah ketika tahu bagaimana orang itu di atas "panggung" dan bagaimana ia setelah selesai "pentas". Kadang-kadang muncul kata-kata atau gumam "O.. ternyata..." atau "Wah, ternyata dia itu begini to..." Kadang itu muncul seiring dengan kata-kata yang mereka ketikkan selama
chatting.
Lumrah saja, karena di luar, saya tahu orang itu begini, ternyata ketika berada di dunia maya, ketahuan "aslinya". :-P (
Btw, mereka merasakan hal yang sama
ngga ya, waktu
chatting dengan saya?)
Bukan, bukan begitu maksud saya, ini cuma sekedar contoh saja. Bagaimanapun juga,
kita tak pernah bisa menilai seseorang hanya dari kata-katanya saja, jadi kiranya dihentikan saja tulisan ini, daripada nantinya timbul prasangka yang tidak-tidak. (lho?)