^00^markas_NURV3^00^

"Sebuah Kisah Perjalanan Hidupku"

Monday, April 11, 2005

Mbasakke

Sudah menjadi adat orang Jawa, seorang adik memanggil kakaknya dengan tidak njangkar. Kalau kakaknya laki-laki, sang adik memanggil dengan mas. Kalau kakaknya perempuan, ya dengan mbak.
Mungkin hal ini tidak akan ditemui di barat. Saya sering menyaksikan film Barat, sang adik memanggil kakaknya dengan njangkar, alias langsung menyebut namanya tanpa menggunakan mas atau mbak. Sangat tidak sopan memang, namun saya kira di luar negeri tidak ada istilah njangkar.

Menurut saya, agar adik-adik kecil kita tidak terlanjur memanggil kakaknya tanpa "embel-embel" mas atau mbak, peran orang tua menjadi kunci utama. Ada suatu kasus. Kemarin saya mendengar tetangga saya berteriak-teriak.
"Bi, pite dilebokke..!"* Kata sang ayah kepada anaknya, namanya Wibi.
"Bi, pite dilebokke..!" Sahut ibunya beberapa waktu kemudian.
"Bi, pite dilebokke...!" Ups... saya kaget. Yang barusan berteriak setelah ibunya adalah adik kecilnya. Kira-kira usianya empat tahun.

Waduh, gawat. Kalau ngga' diperhatikan bisa jadi kebiasaan.Biasanya orang tua sering mbasakke kakaknya untuk sang adik. Mbasakke itu kalau diIndonesiakan apa ya? Membahasakan? Bener ngga'?
Yang jelas begini, alangkah lebih baik ketika orang tua menyuruh sang kakak melakukan sesuatu, jangan lupa memberikan "embel-embel" mas atau mbak.

Misalnya dalam kasus tetangga saya di atas, baiknya ayah ibunya bilang: "Mas Wibi, pite dilebokke...!"
Nha, kalau begini kan sang adik juga akan mengikuti ayah ibunya dengan bilang "Mas Wibi, pite dilebokke..!" Ya, meskipun sebenarnya tak ada dalam kamus, seorang adik memerintah kakaknya. Namun setidaknya adiknya tidak njangkar ketika memanggil kakaknya.

(*Dalam bahasa Indonesia: "Bi, sepedanya dimasukkan..!")

2 Comments:

At 8:30 PM , Anonymous tiani said...

Ehmm,...aku jadi merasa tersindir nehh. Soalnya gak tau kenapa di keluargaku gak pake embel embelnya ( teteh/Aa ) aku sunda jadi harusnya manggil teteh sama kakak perempuan dan AA sama kakak laki laki. Kata ibuku sii, sebutan teteh dan AA itu hanya berlaku waktu masih kecil saja. Sedangkan udah beranjak dewasa, maka hilanglah panggilan kehormatan itu.

OH, yaa maaf yaa aku langsung ngisi comentnya. Salam kenal dari aku!!! blognya bagus

 
At 1:49 PM , Blogger anne said...

kayaknya..hal seperti ini memang tergantung kebiasaan dikeluarga, atau daerah tertentu...seperti oarang2 betawi rasanya dikeluarga mereka jarang yang menggunakan sebutan kak, dik, mas dll... malah biasanya "ELU" atau "GUE" yang berlaku bukan cuma antara kaka dengan adik tapi orangtua dengan anaknya.

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home